Memulai artikel ini saya ingin mengutip kembali kata-kata John Howkins; Ekonomi Kreatif adalah suatu aktivitas penciptaan dimana inputnya adalah Gagasan dan outputnya juga Gagasan. Jadi Gagasan adalah suatu yang sangat dijunjung tinggi didalam era ekonomi kreatif ini. Kembali menurut John Howkins, Ekonomi kreatif adalah transaksi dari hasil kreasi produk-produk kreatif. Biasanya ada 2 macam nilai disetiap transaksi: nilai yang tak kasat mata, HKI dan nilai benda kasat mata. Dalam suatu industri seperti misalnya perangkat lunak digital, nilai HKInya lebih tinggi. Di industri lain seperti seni, harga suatu objek secara fisik lebih tinggi. Jadi, salah satu peran penting dalam Ekonomi Kreatif adalah pemaksimalan HKI sebagai daya saing.
Berkenalan dengan HKI
Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi Paten, Merek, Desain Industri,Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Rahasia Dagang dan Varietas Tanaman. (sumber: website DitJen HKI)
Kesiapan
Bagaimana kesiapan
Prestasi Paten di Indonesia
Di Indonesia dan kebanyakan negara-negara Asia lainnya (selain
Meneliti prestasi HKI Indonesia saat ini dari sudut pandang produktifitas Paten, rasanya jalan masih panjang untuk menjadikannya salah satu ujung tombak dari Ekonomi Kreatif Indonesia. Namun, saya mencoba
mengungkapkan bahwa masih banyak jalan lain menuju Roma, salah satunya adalah dengan mulai menginventarisir Warisan Budaya Indonesia, kemudian menjadikannya inspirasi-inspirasi untuk membuat sesuai yang inovatif walaupun tidak mutlak suatu kebaruan (novelty), atau bahkan mengapa tidak bila menengok ke industri Pariwisata. Apabila Ekonomi Kreatif didefinisikan sebagai kegiatan yang input dan outputnya adalah gagasan, mengapa tidak jika menelorkan gagasan kreatif dibidang pariwisata. Pariwisata yang saya maksud bukan semata-mata pariwisata konvensional secara sempit, namun bisa juga menjadi industri terintegrasi yang melibatkan industri transportasi (industri Yacth misalnya), jasa travel, hotel (properti yang kreatif), kuliner (propaganda makanan Indonesia ke LN), film (National Geographic Channel & Discovery Channel ala Indonesia), musik (ethno-kontemporer) dan lain sebagainya.










